Kamis, 25 Juni 2015

praktikum larutan


BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Larutan merupakan campuran homogen antara zat terlarut dan zat pelarut. Air merupakan suatu pelarut yang sering digunakan untuk membuat larutan.Penambahan air pada pada zat terlarut digunakan untuk menurunkan kadar konsentrasi zat,sehingga diperoleh larutan yang memiliki kadar konsentrasi yang rendah atau yang disebut dengan pengenceran.Dalam membuat larutan langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung konsentrasi larutan yang harus dilarutkan dalam aquades.Kemudian baru ditambahkan aquades sampai batas yang diperlukan.
Dalam larutan bisa diukur Ph,tujuan pengukuran Ph adalah untuk mengetahui tingkat keasaman/tingkat kebasaan larutan tersebut.Alat yang bisa digunakan untuk mengukur Ph salah satunya yaitu kertas Ph universal.Pengukuran dengan menggunakan kertas pH universal dilakukan dengan membandingkan kertas yang dicelupkan dengan standart warna yang tertera pada kotak.
Salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi larutan yang lainnya yaitu dengan metode titrasi.Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar zat suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya.Titrasi dapat dilakukan dengan cara meneteskan larutan penitrasi tetes demi tetes ke dalam larutan yang akan dititrasi sambil dikocok-kocok perlahan-lahan agar larutan tersebut menjadi homogen.Dsar reaksi pada titrasi asam bas adalah netralisasi(penetralan karena reaksi ini merupakan penggabungan ion-ion H+ asam dengan ion-ion OH- basa akan membentuk air yang netral.
1.2  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
1.    Dapat menghitung dan melakukan pengenceran larutan dengan benar
2.    Mengetahui Ph suatu larutan
3.    Dapat melakukan titrasi larutan dan menghitung konsentrasi titran

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HCl (Asam Klorida)
Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida. Asam klorida adalah asam kuat dan komponen utama dalam asam lambung. Asam lambung berfungsi untuk membantu proses pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus.Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industry.Asam klorida harus ditangani dengan wewanti nkeselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.
            Asam klorida dibuat dengan melarutkan hydrogen klorida ke dalam air. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara. Produksi skala besar asam klorida hamper selalu merupakan produk sampingan dari produksi senyawa kimia lainnya.
            Asam klorida pekat(asam klorida berasap) akan membentuk kabut asap. Baik kabut dan larutan tersevbut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh,dengan potensi kerusakan pada organ pernafasan,mata,kulit dan usus.Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya,seperti natrium hipoklorit(pemutih NaClO) atau kalium permangat (KMnO4),gas beracun klorin akan terbentuk.
NaClO + 2 HCl             H2O + NaCl + Cl2
2 KMnO4 + 16 HCl                  2 MnCl            2 + 8H2O + 5 Cl2

2.2  NaCl
Natrium Klorida yang juga dikenal sebagai ion dengan rumus NaCl.Natrium Klorida adalah garam yang paling berperan penting dalam salitasi laut dan dalam cairan ekstraselular dari banyak organism multiselular.Garam sangat umum digunakan sebagai bumbu makanan dan pengawet.Natrium Klorida adalah garam yang berbentuk kristal/bubuk berwarna putih.NaCl dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol.NaCl juga merupakan senyawa natrium yang berlimpah di alam.
            2NaCl + 2H2O                                    Cl2 + H2 + 2NaOH
            Natrium Klorida 0,9% adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh,karena alasan ini,tidak ada reaksi hipersensivitas dari Natrium Klorida.Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley&Aucker,1999)
            Natriun Klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson,1992). Natrium Klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi yang paling sering digunakan Natrium Klorida 0,9%. Ini adalah konsentrasi normal dari Natrium Klorida disebut juga normal saline(Lilley&Auker,1999).Natrium Klorida 0,9% merupakan isotonis aman untuk tubuh,tidak iritan,melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering,menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah.
2.3 Asam Cuka (CH3COOH)
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna dan memiliki titik beku 16.7 °C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati
2.4 Larutan
Larutan didefinisikan sebagai zat homogen yang merupakan campuran dari dua komponen atau lebih, yaitu antara zat terlarut dan zat pelarut. Senyawa dalam jumlah yang lebih besar disebut solvent (zat pelarut) dan senyawa yang berada dalam jumlah kecil disebut solute (zat terlarut).  Jumlah zat terlarut dalam pelarut sangat bervariasi itulah sebabnya perlu mengetahui susunan atau konsentrasi yang tepat dalam larutan bila harus dilakukan suatu perhitungan pada reaksi kimia.        
Konsenstrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain:
1.    Molaritas dari solute adalah jumlah mol solute per liter daei larutan dan biasanya dinyatakan dengan huruf besar M.
2.    Molalitas daei solute adalah jumlah mol solute per 1 kg.
3.    Persen berat adalah menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.
4.    Persen volume menyatakan banyaknya ml zat terlarut dalam 100 ml larutan.
5.    Part per million menyatakan banyaknya mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan.
6.    Fraksi mol adalah perbandingan dari jumlah suatu komponen dengan jumlah total mol dalam larutan.
7.    Normalitas dari suatu solute adalah jumlah gram ekuivalen solute per liter larutan.
Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih senyawa yang terdispensi sebagai molekul, atom atau ion dengan komposisi yang bervariasi atau biasa dikatakan campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut.
Larutan dapat dibedakan menjadi :
-        Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil zat terlarut relatif terhadap jumlah zat pelarut.
-        Larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar jumlah zat terlarut.
-        Larutan lewat jenuh adalah larutan yang tidak dapat melarutkan zat terlarut atau sudah terjadi pengendapan.
-        Larutan belum jenuh adalah larutan yang masih bisa untuk melarutkan zat terlarut atau belum terjadi atau terbentuk endapan.
-        Larutan tepat jenuh adalah larutan yang menimbulkan endapan.
Yang menyatakan banyaknya zat terlarut dan pelarut dikenal istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen berat (W/W), persen volume (V/V), persen lab, molalitas, molaritas, normalitas, ppm, ppb, fraksimol dan lain-lain. (Keenan, 1986).
2.5 Pengenceran
            Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Khopkar, 1990).
Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada suatu senyawa dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai yaitu aquadest dalam jumlah tertentu. Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya kadar kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan (Brady,1999).
Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan konsentrasi yang tidak kita inginkan. Untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya perlu dilakukan standarisasi.standarisasi sering dilakukan dengan titrasi. Zat-zat yang didalam jumlah yang relative besar disebut pelarut (Baroroh, 2004).
Dalam kimia, pengenceran diartikan pencampuran yang bersifat homogen antara zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven (Gunawan, 2004.).
2.6  pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitasion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimiabiologikedokteranpertanianilmu panganrekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah. 
2.7 Titrasi
Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan reaksi netralisasi dimana asam bereaksi dengan sejumlah ekivalen basa. Kurva titrasi dibuat dengan memplot pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Titran selalu merupakan asam atau basa kuat, sedangkan analit bisa berubah basa atau asam kuat ataupun basa atau asam lemah (Djauhari, 1990).
Indikator adalah suatu asam atau basa, maka jumlah yang harus ditambahkan hendaknya sesedikit mungkin, sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi pH dan titran yang menyebabkan terjadinya perubahan sedikit. Dengan demikian indikator biasanya dibuat dengan konsentrasi beberapa persen saja dan ditambahkan sekitar 2-3 tetes ke dalam larutan yang titrasi. (Djauhari, 1990).
Campuran asam basa dapat dititrasi secara bertahap bila ada perbedaan yang mencolok. Di sini harus ada perbedaan Ka sedikitnya 104. Bila campuran dua asam kuat dititrasi bersamaan, maka tidak akan ada perbedaan dengan titrasi asam kuat tunggal, sehingga hanya satu titik ekivalen. Hal yang sama juga terjadi untuk campuran asam lemah jika harga kedua Ka – nya tidak jauh berbeda. (Schaum, 1998).
Titrasi dalam pelarut bukan air asam dan basa dengan tetapan ionisasi kurang dari 10-7 dan 10-8 terlalu lemah untuk dititrasi secara akurat dalam larutan berair. Pelarut inert atau aprotik dan pelarut amfiprotik. Dengan pelarut amfiprotik, asam atau basa akan disesuaikan dengan kekuatan kation atau anion, dimana asam dan basa tersebut akan mengalami ionisasi sempurna. (Schaum, 1998).
Dari tiga jenis wujud zat seharusnya terbentuk sembilam macam larutan, tetapi zat berwujud padat dan cair tidak dapat membentuk larutan dalam pelarut berwujud gas. Partikel yang berwujud padat dan cair dalam zat lain yang berwujud gas akan membentuk campuran heterogen. Sifat larutan sedikit menyimpang dari sifat pelarut karena adanya zat terlarut, penyimpangan semakin besar dan jika komposisi zat terlarut ditambah. Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif disebut konsentrasi. (Syukri, 1999)






BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1  Alat dan Bahan
3.1.1  Alat
a. Preparasi Larutan
1. Beaker glass 100 ml dan 500 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Labu ukur 500 ml dan 1 liter
4. Botol semprot
5. Pengaduk
6. Ruang Asam
7. Pi-pump
b. Pengukuran pH Larutan
1. Beaker glass 100 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Botol semprot
4. Pi-pump
5. pH meter
c. Titrasi Asam Basa
1. Beaker glass 250 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Erlenmeyer 100 ml
4. Biuret
5. Botol semprot
6. Pi-pump

3.1.2  Bahan
a. Preparasi Larutan
1. Larutan stok HCl 37%
2. NaOH (Kristal)
3. Larutan CH3COOH
4. Air Distilat
b. Pengukuran pH Larutan
1. Larutan HCl, NaOH, dan CH3COOH (larutan A1 sampai larutan A5)
2. Air Distilat
3. Kertas pH universal
4. Kertas tisu
c. Titrasi Asam Basa
1. Larutan HCl, NaOH, dan CH3COOH (larutan A1 sampai larutan A5)
2. Air Distilat
3. Indikator
4. Kertas Tisu

3.2  Skema Kerja
3.2.1        Preparasi Larutan
1.      Preparasi larutan HCl 2N sebanyak 1 liter dari larutan stok HCl 37%
Oval: Larutan stok HCl 37%
 




Masukkan ke dalam lemari asam
 

Ambil larutan stok HCl pekat 165,84 ml
 

Masukkan ke dalam labu ukur (ukuran 1 L)
 

Tambahkan air distilat sampai tanda batas (sedikit demi sedikit)

Beri label larutan A1
1.      Preparasi larutan NaOH 1 N sebanyak 1 liter
Oval: NaOH 40 gram
 



Masukkan ke dalam beker glass

Tambahkan 300 ml air

Aduk sampai larut

Masukkan larutan ke dalam labu ukur 1 liter
 

Bilas beker glass dengan air distilat
 

Masukkan air bilasan ke labu ukur
 

Lakukan berulang-ulang sampai hampir penuh
 

Tera labu ukur dengan botol semprot
 

Beri label larutan A2










2.      Preparasi Larutan CH3COOH 1 N dari larutan stok CH3COOH 90%
Oval: Larutan stok CH3COOH 90%
 




Masukkan ke dalam lemari asam

Ambil larutan CH3COOH 0,064 ml

Masukkan ke dalam labu ukur 1 liter

Tambahkan air distilat sampai tanda batas (sedikit demi sedikit)
 

Beri label larutan A3


3.      Pengenceran HCl
Oval: Larutan A1 125 ml
 




Masukkan ke dalam labu ukur 500 ml
 

Tambahkan air distilat sampai tanda batas

Beri label larutan A4







4.      Pengenceran NaOH

Oval: Larutan A2 125ml
 




Masukkan ke dalam labu ukur 250 ml
 

Tambahkan air distilat sampai tanda batas

Beri label larutan A5

3.1.1        Pengukuran pH Larutan
Oval: Larutan A1 sampai A5 70 ml
 




Masukkan ke dalam beaker glass 100 ml
 

Cek pH larutan menggunakan kertas pH universal
 

Catat pH masing-masing larutan










3.1.2        Titrasi Asam Basa

Oval: Larutan A1 100 ml
 

Masukkan ke dalam biuret
 

Ambil 50 ml larutan A2
 

Masukkan ke dalam Erlenmeyer
 

Teteskan indicator
 

Tunggu sampai terjadi perubahan warna
 

Ukur volume perubahan titer (larutan A1 dalam biuret)
 

Hitung konsentrasi titran


DAFTAR PUSTAKA

Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.
Djauhari,Maman A.1990.Statistika Matematik.Bandung:FMIPA ITB
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika, Surabaya.
Keenan.C.W.D.C.Kleinfelter,andJ.H.Wood.1986.College Chemistry.Jakarta:Sixth  Edition,Erlangga.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia, Jakarta.
Syukri.1999.Kimia Dasar Jilid 2.Bandung:UI Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar