Kamis, 25 Juni 2015

Vacuum Frying


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Sebagai negara tropis, banyak buah dan sayuran asli yang bisa tumbuh di Indonesia. Pada saat  musim panen kebanyakan buah dan sayuran itu dijual dalam bentuk buah atau sayuran segar, sehingga harga jual sangat tergantung pada kondisi kesegaran buah atau sayuran tersebut. Tentunya dengan kondisi buah atau sayuran yang masih segar harga jualnya akan baik, tetapi jika kondisinya sudah layu, maka harga jual akan turun bahkan banyak yang dibuang karena sudah busuk. Untuk mengatasi hal ini, buah atau sayuran tersebut harus diolah dan dibuat produk lain untuk mendapatkan nilai tambah dan lebih awet. Banyak cara untuk mengolah bahan makanan salah satunya adalah dengan cara menggoreng dengan mesin vacum frying.
Menggoreng dengan mesin vacum frying adalah menggoreng berbagai macam produk dengan kondisi hampa udara.Cara menggoreng dengan mesin vacuum frying ini dilakukan dalam ruangan tertutup dengan kondisi tekanan rendah sekitar 70 cmhg. Penggorengan dengan vacuum frying dapat digunakan sebagai alternatif pengolahan bahan yang rentan terhadap suhu yang tinggi seperti kripik buah. Bahan dipanaskan dibawah tekanan vakum sehingga menurunkan titik didih air dalam bahan.Dengan penurunan tekanan maka suhu penggorengan bisa dilakukan relatif lebih rendah dibandingkan suhu penggorengan dengan tekanan atmosfer (ruangan terbuka).Menggoreng dengan sistem vakum pada vacuum frying lebih unggul dibandingkan dengan penggorengan  biasa. Karena dengan penggorengan hampa ini bahan yang digoreng tidak berubah warnanya, rasanya dan aromanya.Selain itu hasil penggorengan lebih renyah, tampilannya menarik, kandungan seratnya tinggi (kandungan nutrisi buah tidak berkurang) dan tahan lama/ awet walaupun tanpa bahan pengawet. Oleh karena itu kami membahas tentang alat penggorengan vacum agar dapat memperjelas tentang vacum frying dan prinsip kerjanya dalam mengolah bahan pangan.
1.2 TUJUAN
         Untuk mengetahui tentang vacum frying
         Untuk mengetahui mekanisme/ prinsip kerja vacum frying
         Untuk mengetahui fungsi dari masing-masing alat pada vacum frying
         Untuk mengetahui aplikasi vacu frying pada pengolahan pangan
BAB 2 ISI

2.1  Pengertian Vacum Fryig

Mesin penggoreng hampa (en: Vacuum Fryer) adalah mesin produksiuntuk menggoreng berbagai macam buah dan sayuran dengan carapenggorengan hampa.Teknik penggorengan hampa yaitu menggoreng bahanbaku (biasanya buah-buahan atau sayuran) dengan menurunkan tekanan udara pada ruang penggorengan sehingga menurunkan titik didih air sampai 50°-60° C. Dengan turunnya titik didih air maka bahan baku yang biasanya mengalami kerusakan/perubahan pada titik didih normal 100 °C bisa dihindari. Teknik penggorengan hampa ini akan menghasilkan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan cara penggorengan biasa, diantaranya :
a.       Tidak mengubah warna buah atau sayuran
b.      Hasil penggorengan lebih renyah
c.       Aroma tidak berubah
d.      Kandungan serat tinggi
e.       Lebih tahan lama meskipun tanpa bahan pengawe (Anonim,2013)

2.2  Alat Vacum Frying
Mesin ini digunakan untuk menggoreng terutama buah-buahan yang mempunyai kadar air tinggi seperti : Nanas, apel, nangka, salak, dan lain-lain tanpa menghilangkan rasa yang khas pada bahan.
Adapun nama-nama bagian dari penggoreng vakum dan fungsinya adalah sebagai berikut :
1.      Tabung Penggoreng, berfungsi untuk mengkondisikan bahan sesuai tekanan yang diinginkan. Di dalam tabung dilengkapi keranjang buah setengah lingkaran
2.      Bagian Pengaduk Penggorengan, berfungsi untuk mengaduk buah yang berada dalam tabung penggorengan.
3.      Unit Pemanas, menggunakan kompor gas LPG.
4.      Bak air, sebagai tempat sumber dan penyediaan air bagi pompa water jet untuk menciptakan kevakuman.
5.      Kotak control sebagai unit pengendali operasi , berfungsi untuk mengaktifkan alat vakum dan unit pemanas.
6.      Pompa Vakum Water jet, berfungsi untuk menghisap udara di dalam ruang penggoreng sehingga tekanan menjadi rendah, serta untuk menghisap uap air bahan.
7.      Kondensor, berfungsi untuk mengembunkan uap air yang dikeluarkan selama penggorengan. Kondensor ini menggunakan air sebagai pendingin.
8.      Manometer kevakuman, untuk melihat tekanan kevakuman dalam tabung penggoreng.

Langkah-langkah pengoperasian mesin penggoreng vakum adalah sebagai berikut :
1.      Mengisi bak air hingga memenuhi batas permukaan bak sirkulasi.
2.      Memasukkan minyak goreng ke dalam tabung sampai dasar keranjang buah.
3.      Menyetel kedudukan jarum penyetel suhu pada temeperatur yang diinginkan, kemudian hubungkan steker boks pengendali suhu dengan listrik 220 volt, minimal 1300 watt.
4.      Menekan tombol pengendali suhu pada posisi on dan nyalakan kompor gas.
5.      Setelah tercapai suhu yang diset (ditandai nyala kompor mengecil), masukkan bahan maksimum sebanyak 5 kg ke dalam keranjang penggoreng kemudian tutup tabung penggoreng dan kunci rapat-rapat
6.      Menutup kran pelepas vakum, nyalakan pompa dengan menekan tombol besar dalam posisi on pada kotak kontrol sambil membuka kran sirkulasi air di atas tabung jet, tunggu hingga air keluar dari selang bagian atas kondensor.
7.      Setelah vakum meter menunjukkan angka 700 mmHg, turunkan keranjang ke dalam minyak dengan memutar tuas pengaduk setengah putaran (180°). Goyanglah tuas setiap 5 menit untuk meratakan pemanasan.
8.      Setelah matang, buih pada tabung penggorengan akan hilang (lihat dari kaca pengintai dengan menekan tombol lampu ke posisi on) angkat bahan ke atas minyak dengan memutar tuas pengaduk 180° dan kunci.
9.      Mematikan pompa, kompor, dan kran sirkulasi air, kemudian buka kran pelepas vakum (di atas tutup), pelanpelan hingga vakum meter menunjuk angka 0.
10.  Membuka tutup tabung dan keranjang penggoreng, angkat keripik buah dan tiriskan pada mesin pengering (Anonym . 2010).

2.3 Prinsip Kerja dari Alat Vacum Frying
Prinsip kerja vacuum frying adalah menghisap kadar air dalam sayuran dan buah dengan kecepatan tinggi agar pori-pori daging buah-sayur tiak cepat menutup, sehingga kadar air dalam buah dapat diserap dengan sempurna. Prinsip kerja dengan mengatur keseimbangan suhu dan tekanan vakum. Untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang bagus dalam artianwarna, aroma, dan ras buah-sayur tidak berubah dan wrenyah pengaturan suhu tidak boleh melebih 85 C dan tekanan vakum antara 65 – 76 cmHg. Sebaiknya air dalam bak penampung pada vacuum frying tidak mengandung partikel besi karena dapat menyebabkan air keruh dan dapat merusak pompa vakum yang akhirnya mempengaruhi kerenyahan keripik ( Hidayat, 2008).
Kondisi vakum ini dapat menyebabkan penurunan titik didih minyak dari 110º C – 200º C menjadi 80º C – 100º C sehingga dapat mencegah terjadinya perubahan rasa, aroma, dan warna bahan seperti mangga dan buahan lainnya (Argo dkk, 2005).
Bahan yang digoreng diletakkan di dalam keranjang berangka segi empat yang bagian bawahnya terbuat dari bahan tahan panas dan karat, dengan diameter sekitar 2 mm. keranjang dan bahannya ditempatkan secara manual di dalam penggorengan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi mutu akhir produk yang digoreng adalah kualitas bahan yang digoreng, kualitas minyak goreng, jenis alat penggorengan dan sistem kemasan produk akhir.Selama penyimpanan, produk yang digoreng dapat pula mengalami kerusakan yaitu terjadinya ketengikan dan perubahan tekstur pada produk.Ketengikan dapat terjadi karena minyak/ lemak mengalami oksidasi. Hal ini dipengaruhi oleh mutu minyak, kondisi proses penggorengan dan sistem pengemasan yang digunakan.
Pada alat penggoreng vakum ini Uap air yang terjadi sewaktu proses penggorengan disedot oleh pompa vakum. Setelah melalui kondensor uap air mengembun dan kondensat yang terjadi dpat dikeluarkan. Sirkulasi air pendingin pada kondensor dihidupkan sewaktu proses penggorengan
2.4 Penggorengan Vakum dengan suhu Rendah
Menurut hukum Gay Lussac; bahwa pada volume konstan, tekanan gas berbanding lurus dengan suhu mutlak. Hukum Gay Lussac menyatakan suhu mutlak (yaitu suhu yang dinyatakan dalam derajat kelvin, bukan derajat celcius) semata – mata untuk menyatakan persamaan matematik, yang artinya perbandingan tekanan dan suhu akan linier. Jika dinyatakan dalam derajat celcius, maka perbandingannya tidak akan linier, akan tetapi masih tetap berbanding lurus .Secara umum bisa kita katakan, bahwa semakin tinggi tekanan udara pada suatu ruang tertutup, maka semakin tinggi suhu pada ruang tersebut.Sebaliknya, semakin rendah tekanan udaranya, semakin rendah pula suhunya.Mesin Vacuum Fryer menggunakan hukum ini sebagai prinsip prosesnya. Dengan menurunkan tekanan pada tabung penggorengan, maka suhu di dalamnya juga akan semakin turun. Dengan tekanan dibuat vakum, maka suhu akan turun semakin jauh sehingga bisa dilakukan penggorengan pada suhu rendah. Dengan proses inilah kemudian bahan – bahan yang semestinya tidak bisa digoreng, akhirnya bisa digoreng menghasilkan produk baru, diantaranya keripik buah dan keripik sayuran.(Hidayat. 2008)
2.5  Aplikasi Vacum Frying
Vakum frying digunakan untuk bahan dengan kadar air tinggi dan kadar glukosa yang tinggi, hal ini dikarenakan pada bahan – bahan yang digoreng menggunakan penggoreng biasa dengan kadar gula yang tinggi ( Indocitrago, 2010). Pada bahan seperti pada buah nangka dan mangga serta wortel, maka hasil keripik yang digoreng tidak akan renyah dan akan menjadi seperti jelly serta berubah warna menjadi coklat karena reaksi mailard yang terjadi antara gula dan panas tinggi pada suu penggorengan.
Aplikasi lain yakni digunakan untuk menggoreng bahan dengan kandungan volatil tinggi seperti aroma dan pigmen yang sensitif panas. Karena titik didih minyak yang rendah serta bertekanan membuat aroma tidak menguap dari bahan dan hanya air saja yang menguap secara berangsur –angsur.
Berikut adalah contoh tahapan penggorengan kripik pisang menggunakan penggoreng vakum. Pisang yang biasa digunakan untuk pembuatan keripik
menggunakan vacuum frying adalah pisang dengan tingkat
kematangan penuh > 80%.
Cara menggoreng dengan menggunakan penggorengan
vakum sebagai berikut :
a.       Isi bak air sampai ejector tercelup sedalam ± 3 cm dan usahakan temperatur air bersuhu < 270C selama penggorengan berlangsung.
b.      Isi tabung penggorengan dengan minyak goreng hingga setengah volume
c.       Atur kedudukan jarum penyetel suhu pada 85oC – 95oC, kemudian hubungkan steker boks pengendali suhu dengan sumber listrik.
d.      Masukkan bahan irisan pisang ke dalam keranjang penggoreng
e.       Nyalakan kompor elpiji untuk memanaskan minyak sampai suhu 900 C dan usahakan suhu konstan selama penggorengan.
f.       Tutup tabung penggorengan
g.      Nyalakan pompa air
h.      Tunggu sampai tekanan di dalam tabung mencapai minimal – 76 cmHg, pastikan tidak ada yang bocor
i.        Putar keranjang penggorengan dengan menggunakan tuas setengah putaran (1800)
j.        Biarkan proses penggorengan berlangsung sampai kaca indikator sudah tidak ada lagi uap air/embun dan suara gemersik sudah hilang. Selama penggorengan berlangsung usahakan sesering mungkin mengaduk dengan memeutar tuas berkali-kali.
k.      Kembalikan posisi keranjang penggorengan di atas minyak penggorengan
l.        Biarkan selama 5 menit agar minyak yang ada di dalam bahan dan keranjang tertiriskan.
m.    Buang tekanan dengan membuka katup pembuang tekanan dan tekan tombol off untuk mematikan mesin vakum
n.      Buka tutup tabung penggoreng dan tutup keranjang penggorengan
o.      Ambil hasil penggorengan dan langsung dimasukkan ke dalam mesin spinner dan hidupkan mesin spinner selama 2-3 menit.




BAB 3. PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.      Mesin penggoreng hampa (en: Vacuum Fryer) adalah mesin produksiuntuk menggoreng berbagai macam buah dan sayuran dengan carapenggorengan hampa.
2.      Teknik penggorengan hampa ini akan menghasilkan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan cara penggorengan biasa, diantaranya :
a.       Tidak mengubah warna buah atau sayuran
b.      Hasil penggorengan lebih renyah
c.       Aroma tidak berubah
d.      Kandungan serat tinggi
e.       Lebih tahan lama meskipun tanpa bahan pengawe
3.      Faktor – faktor yang mempengaruhi mutu akhir produk yang digoreng adalah kualitas bahan yang digoreng, kualitas minyak goreng, jenis alat penggorengan dan sistem kemasan produk akhir
4.      Vakum frying digunakan untuk bahan dengan kadar air tinggi dan kadar glukosa yang tinggi
3.2  SARAN
Untuk materi kuliah vacum frying ini bukan hanya teori melainkan dengan praktikum agar mahasiswa lebih memahaminya.





DAFTAR PUSTAKA

Anoym. 2010. Mesin vakum Frying. http://indocitagro.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2&Itemid=39 [diakses 20 September 2014]

Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Mesin_penggoreng_hampa [diakses pada tanggal 25 september 2014]

Indocitrago. 2010. http://lordbroken.wordpress.com/2010/08/19/vacum-frying/ (diakses pada tanggal 25 september 2014)

Nur hidayat. 2008. vacuum-fried-snack.sept. http://ptp2007.wordpress.com/2008/07/11/vacuum-fried-snack. [diakses 25 september 2014]

praktikum larutan


BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Larutan merupakan campuran homogen antara zat terlarut dan zat pelarut. Air merupakan suatu pelarut yang sering digunakan untuk membuat larutan.Penambahan air pada pada zat terlarut digunakan untuk menurunkan kadar konsentrasi zat,sehingga diperoleh larutan yang memiliki kadar konsentrasi yang rendah atau yang disebut dengan pengenceran.Dalam membuat larutan langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung konsentrasi larutan yang harus dilarutkan dalam aquades.Kemudian baru ditambahkan aquades sampai batas yang diperlukan.
Dalam larutan bisa diukur Ph,tujuan pengukuran Ph adalah untuk mengetahui tingkat keasaman/tingkat kebasaan larutan tersebut.Alat yang bisa digunakan untuk mengukur Ph salah satunya yaitu kertas Ph universal.Pengukuran dengan menggunakan kertas pH universal dilakukan dengan membandingkan kertas yang dicelupkan dengan standart warna yang tertera pada kotak.
Salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi larutan yang lainnya yaitu dengan metode titrasi.Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar zat suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya.Titrasi dapat dilakukan dengan cara meneteskan larutan penitrasi tetes demi tetes ke dalam larutan yang akan dititrasi sambil dikocok-kocok perlahan-lahan agar larutan tersebut menjadi homogen.Dsar reaksi pada titrasi asam bas adalah netralisasi(penetralan karena reaksi ini merupakan penggabungan ion-ion H+ asam dengan ion-ion OH- basa akan membentuk air yang netral.
1.2  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
1.    Dapat menghitung dan melakukan pengenceran larutan dengan benar
2.    Mengetahui Ph suatu larutan
3.    Dapat melakukan titrasi larutan dan menghitung konsentrasi titran

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HCl (Asam Klorida)
Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida. Asam klorida adalah asam kuat dan komponen utama dalam asam lambung. Asam lambung berfungsi untuk membantu proses pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme masuk lebih jauh ke dalam usus.Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industry.Asam klorida harus ditangani dengan wewanti nkeselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.
            Asam klorida dibuat dengan melarutkan hydrogen klorida ke dalam air. Hidrogen klorida dapat dihasilkan melalui beberapa cara. Produksi skala besar asam klorida hamper selalu merupakan produk sampingan dari produksi senyawa kimia lainnya.
            Asam klorida pekat(asam klorida berasap) akan membentuk kabut asap. Baik kabut dan larutan tersevbut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh,dengan potensi kerusakan pada organ pernafasan,mata,kulit dan usus.Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya,seperti natrium hipoklorit(pemutih NaClO) atau kalium permangat (KMnO4),gas beracun klorin akan terbentuk.
NaClO + 2 HCl             H2O + NaCl + Cl2
2 KMnO4 + 16 HCl                  2 MnCl            2 + 8H2O + 5 Cl2

2.2  NaCl
Natrium Klorida yang juga dikenal sebagai ion dengan rumus NaCl.Natrium Klorida adalah garam yang paling berperan penting dalam salitasi laut dan dalam cairan ekstraselular dari banyak organism multiselular.Garam sangat umum digunakan sebagai bumbu makanan dan pengawet.Natrium Klorida adalah garam yang berbentuk kristal/bubuk berwarna putih.NaCl dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol.NaCl juga merupakan senyawa natrium yang berlimpah di alam.
            2NaCl + 2H2O                                    Cl2 + H2 + 2NaOH
            Natrium Klorida 0,9% adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh,karena alasan ini,tidak ada reaksi hipersensivitas dari Natrium Klorida.Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley&Aucker,1999)
            Natriun Klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson,1992). Natrium Klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi yang paling sering digunakan Natrium Klorida 0,9%. Ini adalah konsentrasi normal dari Natrium Klorida disebut juga normal saline(Lilley&Auker,1999).Natrium Klorida 0,9% merupakan isotonis aman untuk tubuh,tidak iritan,melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering,menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah.
2.3 Asam Cuka (CH3COOH)
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna dan memiliki titik beku 16.7 °C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati
2.4 Larutan
Larutan didefinisikan sebagai zat homogen yang merupakan campuran dari dua komponen atau lebih, yaitu antara zat terlarut dan zat pelarut. Senyawa dalam jumlah yang lebih besar disebut solvent (zat pelarut) dan senyawa yang berada dalam jumlah kecil disebut solute (zat terlarut).  Jumlah zat terlarut dalam pelarut sangat bervariasi itulah sebabnya perlu mengetahui susunan atau konsentrasi yang tepat dalam larutan bila harus dilakukan suatu perhitungan pada reaksi kimia.        
Konsenstrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain:
1.    Molaritas dari solute adalah jumlah mol solute per liter daei larutan dan biasanya dinyatakan dengan huruf besar M.
2.    Molalitas daei solute adalah jumlah mol solute per 1 kg.
3.    Persen berat adalah menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.
4.    Persen volume menyatakan banyaknya ml zat terlarut dalam 100 ml larutan.
5.    Part per million menyatakan banyaknya mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan.
6.    Fraksi mol adalah perbandingan dari jumlah suatu komponen dengan jumlah total mol dalam larutan.
7.    Normalitas dari suatu solute adalah jumlah gram ekuivalen solute per liter larutan.
Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih senyawa yang terdispensi sebagai molekul, atom atau ion dengan komposisi yang bervariasi atau biasa dikatakan campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut.
Larutan dapat dibedakan menjadi :
-        Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil zat terlarut relatif terhadap jumlah zat pelarut.
-        Larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar jumlah zat terlarut.
-        Larutan lewat jenuh adalah larutan yang tidak dapat melarutkan zat terlarut atau sudah terjadi pengendapan.
-        Larutan belum jenuh adalah larutan yang masih bisa untuk melarutkan zat terlarut atau belum terjadi atau terbentuk endapan.
-        Larutan tepat jenuh adalah larutan yang menimbulkan endapan.
Yang menyatakan banyaknya zat terlarut dan pelarut dikenal istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen berat (W/W), persen volume (V/V), persen lab, molalitas, molaritas, normalitas, ppm, ppb, fraksimol dan lain-lain. (Keenan, 1986).
2.5 Pengenceran
            Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Khopkar, 1990).
Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada suatu senyawa dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai yaitu aquadest dalam jumlah tertentu. Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya kadar kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan (Brady,1999).
Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan konsentrasi yang tidak kita inginkan. Untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya perlu dilakukan standarisasi.standarisasi sering dilakukan dengan titrasi. Zat-zat yang didalam jumlah yang relative besar disebut pelarut (Baroroh, 2004).
Dalam kimia, pengenceran diartikan pencampuran yang bersifat homogen antara zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven (Gunawan, 2004.).
2.6  pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitasion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimiabiologikedokteranpertanianilmu panganrekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah. 
2.7 Titrasi
Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan reaksi netralisasi dimana asam bereaksi dengan sejumlah ekivalen basa. Kurva titrasi dibuat dengan memplot pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Titran selalu merupakan asam atau basa kuat, sedangkan analit bisa berubah basa atau asam kuat ataupun basa atau asam lemah (Djauhari, 1990).
Indikator adalah suatu asam atau basa, maka jumlah yang harus ditambahkan hendaknya sesedikit mungkin, sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi pH dan titran yang menyebabkan terjadinya perubahan sedikit. Dengan demikian indikator biasanya dibuat dengan konsentrasi beberapa persen saja dan ditambahkan sekitar 2-3 tetes ke dalam larutan yang titrasi. (Djauhari, 1990).
Campuran asam basa dapat dititrasi secara bertahap bila ada perbedaan yang mencolok. Di sini harus ada perbedaan Ka sedikitnya 104. Bila campuran dua asam kuat dititrasi bersamaan, maka tidak akan ada perbedaan dengan titrasi asam kuat tunggal, sehingga hanya satu titik ekivalen. Hal yang sama juga terjadi untuk campuran asam lemah jika harga kedua Ka – nya tidak jauh berbeda. (Schaum, 1998).
Titrasi dalam pelarut bukan air asam dan basa dengan tetapan ionisasi kurang dari 10-7 dan 10-8 terlalu lemah untuk dititrasi secara akurat dalam larutan berair. Pelarut inert atau aprotik dan pelarut amfiprotik. Dengan pelarut amfiprotik, asam atau basa akan disesuaikan dengan kekuatan kation atau anion, dimana asam dan basa tersebut akan mengalami ionisasi sempurna. (Schaum, 1998).
Dari tiga jenis wujud zat seharusnya terbentuk sembilam macam larutan, tetapi zat berwujud padat dan cair tidak dapat membentuk larutan dalam pelarut berwujud gas. Partikel yang berwujud padat dan cair dalam zat lain yang berwujud gas akan membentuk campuran heterogen. Sifat larutan sedikit menyimpang dari sifat pelarut karena adanya zat terlarut, penyimpangan semakin besar dan jika komposisi zat terlarut ditambah. Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif disebut konsentrasi. (Syukri, 1999)






BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1  Alat dan Bahan
3.1.1  Alat
a. Preparasi Larutan
1. Beaker glass 100 ml dan 500 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Labu ukur 500 ml dan 1 liter
4. Botol semprot
5. Pengaduk
6. Ruang Asam
7. Pi-pump
b. Pengukuran pH Larutan
1. Beaker glass 100 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Botol semprot
4. Pi-pump
5. pH meter
c. Titrasi Asam Basa
1. Beaker glass 250 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Erlenmeyer 100 ml
4. Biuret
5. Botol semprot
6. Pi-pump

3.1.2  Bahan
a. Preparasi Larutan
1. Larutan stok HCl 37%
2. NaOH (Kristal)
3. Larutan CH3COOH
4. Air Distilat
b. Pengukuran pH Larutan
1. Larutan HCl, NaOH, dan CH3COOH (larutan A1 sampai larutan A5)
2. Air Distilat
3. Kertas pH universal
4. Kertas tisu
c. Titrasi Asam Basa
1. Larutan HCl, NaOH, dan CH3COOH (larutan A1 sampai larutan A5)
2. Air Distilat
3. Indikator
4. Kertas Tisu

3.2  Skema Kerja
3.2.1        Preparasi Larutan
1.      Preparasi larutan HCl 2N sebanyak 1 liter dari larutan stok HCl 37%
Oval: Larutan stok HCl 37%
 




Masukkan ke dalam lemari asam
 

Ambil larutan stok HCl pekat 165,84 ml
 

Masukkan ke dalam labu ukur (ukuran 1 L)
 

Tambahkan air distilat sampai tanda batas (sedikit demi sedikit)

Beri label larutan A1
1.      Preparasi larutan NaOH 1 N sebanyak 1 liter
Oval: NaOH 40 gram
 



Masukkan ke dalam beker glass

Tambahkan 300 ml air

Aduk sampai larut

Masukkan larutan ke dalam labu ukur 1 liter
 

Bilas beker glass dengan air distilat
 

Masukkan air bilasan ke labu ukur
 

Lakukan berulang-ulang sampai hampir penuh
 

Tera labu ukur dengan botol semprot
 

Beri label larutan A2










2.      Preparasi Larutan CH3COOH 1 N dari larutan stok CH3COOH 90%
Oval: Larutan stok CH3COOH 90%
 




Masukkan ke dalam lemari asam

Ambil larutan CH3COOH 0,064 ml

Masukkan ke dalam labu ukur 1 liter

Tambahkan air distilat sampai tanda batas (sedikit demi sedikit)
 

Beri label larutan A3


3.      Pengenceran HCl
Oval: Larutan A1 125 ml
 




Masukkan ke dalam labu ukur 500 ml
 

Tambahkan air distilat sampai tanda batas

Beri label larutan A4







4.      Pengenceran NaOH

Oval: Larutan A2 125ml
 




Masukkan ke dalam labu ukur 250 ml
 

Tambahkan air distilat sampai tanda batas

Beri label larutan A5

3.1.1        Pengukuran pH Larutan
Oval: Larutan A1 sampai A5 70 ml
 




Masukkan ke dalam beaker glass 100 ml
 

Cek pH larutan menggunakan kertas pH universal
 

Catat pH masing-masing larutan










3.1.2        Titrasi Asam Basa

Oval: Larutan A1 100 ml
 

Masukkan ke dalam biuret
 

Ambil 50 ml larutan A2
 

Masukkan ke dalam Erlenmeyer
 

Teteskan indicator
 

Tunggu sampai terjadi perubahan warna
 

Ukur volume perubahan titer (larutan A1 dalam biuret)
 

Hitung konsentrasi titran


DAFTAR PUSTAKA

Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.
Djauhari,Maman A.1990.Statistika Matematik.Bandung:FMIPA ITB
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika, Surabaya.
Keenan.C.W.D.C.Kleinfelter,andJ.H.Wood.1986.College Chemistry.Jakarta:Sixth  Edition,Erlangga.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia, Jakarta.
Syukri.1999.Kimia Dasar Jilid 2.Bandung:UI Press.